CHAQIAL

Kumpulan Tulisan Ringan, Sahabat Saat Santai

Hutan Indonesia Sumber Energi Mikrobiologi

Jakarta —Chaqial. Indonesia negeri kaya dan makmur, berlimpah sumber daya alam. Dari daratan hingga lautan tak sedikit kakayaan alam berada diantaranya. Gugusan hutan yang berlimpah adalah salah satu keberkahan bagi negeri Indonesia.

Hutan bukan saja penampung air yang dasyat guna kepentingan hidup segala makhluk. Hutan juga merupakan benteng pertahanan terakhir dari dampak perubahan iklim yang ekstrim. Namun sungguh disayangkan hutan di Indonesia perlahan tapi pasti telah mengalami penyusutan yang luarbiasa.

Hutan Indonesia berkurang secara drastis. Dalam kurun waktu 2009-2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar atau seluas Provinsi Sumatera Barat, tujuh kali luas Provinsi DKI Jakarta.

Forest Watch Indonesia (FWI) mengungkap fakta mencengangkan tersebut dalam buku Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2009-2013 yang diluncurkan pada Kamis (11/12/2014) di Jakarta.

Pemicu Kerusakan Hutan
Kini kekayaan hutan di Indonesia hanya tersisa 82 juta hektar. Masing-masing 19,4 juta hektar di Papua, 26,6 juta hektar di Kalimantan, 11,4 juta hektar di Sumatera, 8,9 juta hektar di Sulawesi, 4,3 juta hektar di Maluku, serta 1,1 juta hektar di Bali dan Nusa Tenggara.

Masalah kehutanan ini tidak dapat dilepaskan dari persoalan korupsi lingkungan. Pihak berwenang menerima uang untuk memudahkan perizinan. Korupsi memicu masalah tumpang tindih perizinan dan pembukaan hutan untuk kepentingan komersial.

Jika pengrusakan hutan terus di biarkan, diprediksi 10 tahun ke depan hutan di Riau akan hilang diikuti dengan Kalimantan Tengah dan Jambi.

Kondisi perusakan hutan terparah terdapat di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Perkebunan kelapa sawit serta sektor tambang berkontribusi besar pada kerusakan tersebut.

Meski demikian, hutan di wilayah lain pun mengalami ancaman. Beberapa hutan di wilayah Papua sudah mengalami kerusakan. Sementara itu, hutan-hutan di pulau-pulau kecil juga harus terus dijaga dari kerusakan. Meskipun ditinjau dari luas tak seberapa, hutan di pulau kecil berperan mempertahankan ketersediaan air tawar dan benteng dari dampak perubahan iklim.

Hutan Hujan Sumber Energi Dunia
Kita selaku bangsa Indonesia selayaknya senantiasa bersyukur telah diberikan limpahan berkat yang luarbiasa dari yang Mahakuasa. Bagaimana tidak, bumi Indonesia sudah terkenal sejak lama memiliki sumber kekayaan yang berlimpah sehingga membuat negara-negara lain berlomba untuk memperoleh manfaat dari kekayaan negeri ini.  Hutan tropis Indonesia menyimpan banyak potensi energi mikrobiologi yang sangat diperlukan dunia.

Energi mikrobiologi disebut sebagai generasi kedua dan ketiga sumber energi dunia. Energi mikrobiologi hanya dapat ditemukan di hutan hujan tropis dari keanekaragaman hayati.

“Itu karenanya hutan tropis dengan segala keanekaragaman hayatinya (biodiversity) sangat penting,” hal ini  diungkapkan Senior Advisor for Terresterial Policy, The Nature Conservancy, Wahjudi Wardoyo di sela-sela KTT Perubahan Iklim, COP 21, Paris, Prancis, Jumat (4/12/2015).

Ia menuturkan, keragaman hayati sangat penting bagi Indonesia karena tak bisa digantikan. Misalnya, karet alam Indonesia. Karet alam tak tergantikan karena daya lentingnya lebih bagus ketimbang karet sintetis.

"Tiga puluh persen pembuatan ban untuk truk-truk berkapasitas besar harus dari karet alam,” kata dia.

Mikroba
Keanekaragaman hayati Indonesia ini, tidak bisa dilepaskan dari peran mikroba. Menurut riset, di masa depan mikroba akan menjadi sumber pangan dunia.

Mikroba terbagi dalam tiga jenis besar yaitu bakteri, jamur bersel satu, dan virus.

Selama ini orang memahami mikroba sebagai sumber penyakit. Padahal, mikroba memiliki arti penting di bidang pangan, pertanian, dan energi.

Ahli mikrobiologi Amerika memprediksi pada tahun 2050 penduduk bumi akan berjumlah 9,6 miliar. Jika cara kita melakukan intensifikasi pangan masih seperti sekarang, maka pada tahun 2050 dunia akan kekurangan pangan hingga 30 persen.

Untuk mengatasi kekurangan pangan, dunia membutuhkan jasa baik mikroba. Dengan menjadikan pupuk dari mikroba yang direkayasa sedemikian rupa hingga menjadi makanan dari mikroba.

Melihat potensi yang luarbiasa ini tentunya sudah menjadi kewajiban seluruh komponen masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan. Bukan hal yang mustahil Indonesia akan memiliki peran yang penting dipercaturan dunia. Masa depan bumi di tentukan dari sekarang, akankah mengalami kehancuran lebih cepat atau sebaliknya semua tergantung usaha kita disaat ini.

Dalam mempertahankan hutan Indonesia, yang diperlukan adalah perbaikan tata kelola, perbaikan izin kehutanan, dan pengawasan. Selain itu, juga leadership dari pemerintah.

Pemerintahan yang bersih, jujur dan amanah sangat dibutuhkan oleh negeri ini. Sudah waktunya para pemimpin negeri ini memiliki hati nurani, merasa jijik jika memakan "yang bukan haknya" apa masih suka makan "kotoran"? Tentu saja tidak bukan?. Korupsi, kolusi dan nepotisme buang jauh-jauh dari pikiran Anda wahai para pemimpin negeri yang terhormat. Majukan negeri ini dimulai dengan perubahan" revolusi mental" dari diri Anda dan pada akhirnya berjenjang ke bawah.

Mengapa Indonesia Masih Kekurangan Periset?

Jakarta Chaqial. Sebuah negara akan cepat mengalami kemajuan bilamana memiliki periset yang berlimpah dan berkualitas. Periset sangat penting bagi perkembangan kemajuan suatu bangsa. Dengan hasil penelitiannya akan dihasilkan suatu produk yang dapat menunjang sektor industri maupun kemudahan bagi masyarakat.

Profesi peneliti di Indonesia masih sangat minim, mungkin karena faktor dukungan dari pemerintah maupun swasta yang belum memberikan apresiasi yang layak bagi seorang peneliti. Hal ini juga yang menyebabkan kurang minatnya generasi muda untuk bergelut di profesi sebagai periset. Data dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2016 menyebutkan bahwa kuantitas periset di negeri ini adalah yang paling sedikit di antara negara-negara anggota G-20.

Rasio jumlah periset di Indonesia, menurut sumber tersebut, yaitu 89 peneliti untuk per 1 juta penduduk. Dibandingkan dengan Singapura—jawara ASEAN—yang memiliki 6.658 peneliti per 1 juta penduduk, Indonesia masih jauh tertinggal.

Kondisi tersebut semakin bertambah berat karena kualitas peneliti dalam negeri pun dinilai masih belum memadai. Hal ini, terlihat dari jumlah publikasi ilmiah periset lokal yang masih tertinggal dari negara tetangga.

Dikutip dari kopertis12.or.id pada Senin(16/1/2017), dalam setahun Indonesia hanya mampu menghasilkan 6.260 riset. Sementara Malaysia mampu membuat 25.000 riset, Singapura 18.000 riset, dan Thailand 12.000–13.000 riset.

Melihat kenyataan ini sangat memprihatinkan mengingat penelitian memiliki peran yang sangat besar dalam memajukan suatu bangsa. Contoh saja, Amerika, China, Inggris, Jerman, dan Jepang. Negara-negara maju itu masuk dalam peringkat 5 besar sebagai negeri terbaik dalam hal publikasi ilmiah menurut scimagojr.com.

Bukan saja menyoal jurnal limiah, di beberapa industri dalam negeri pun kedapatan minim sekali melakukan research and development (RnD) atau penelitian dan pengembangan. Misalnya, pada industri berbasis sains seperti farmasi.

Hal ini terungkap pada sebuah tulisan di portal kemenperin.go.id, Rabu (27/1/2017), meski menguasai 70 persen pasar kebutuhan farmasi dalam negeri, industri ini masih mengimpor 95 persen bahan baku obat. Sangat miris rasanya melihat hal tersebut, ini terjadi karena mereka tidak melakukan RnD.

Merujuk laman Kontan, Senin (13/2/2017), pasar produk farmasi di Indonesia rata-rata tumbuh 10 persen per tahun pada periode 2011-2015. Tahun lalu saja nilai transaksi pasar diperkirakan mampu mencapai Rp 69 triliun dan di prediksi pada tahun 2020 akan menghasilkan Rp 102 triliun. Suatu angka penjualan yang fantastis, andai di imbangi dengan riset yang berjalan tentunya nilai tersebut akan bertambah dan memberikan keuntungan finansial yang lebih bagi perusahaan maupun negeri ini.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Untuk menjawab tantangan di industri farmasi nasional, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan regulasi. Jokowi menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Salah satu poin penting dari instruksi tersebut adalah memerintahkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) untuk mengoordinasikan, serta mengarahkan penelitian dan pengembangan ketersediaan farmasi dan alat kesehatan.

Menristekdikti diminta pula melakukan dan mendorong pengembangan tenaga riset dengan mendirikan fasilitas riset, terutama studi klinik dan studi non-klinik.

"(Pengembangan itu) dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga ahli, industri farmasi, dan alat kesehatan," tegas Presiden seperti dirilis situs web Sekretariat Kabinet, Selasa (19/7/2016).

Dari sektor swasta, beberapa lembaga pendidikan telah memulai langkah serupa. Salah satunya, Indonesia International Institute for Life Science (i3L).

Dalam operasionalnya, kampus itu punya kurikulum internasional berbasis sains dan bisnis. Dengan demikian, para mahasiswa tak hanya dididik menjadi ilmuwan tapi juga pebisnis sehingga bisa memasarkan produk temuannya.

Dilansir dari kompas.com Senin (16/1/2017) Kepala Program Magister Bio-Management Management i3L Cristina Gomez dalam keterangannya, menyebutkan bahwa pihak manajemen pada dasarnya ingin membantu sektor industri berbasis teknologi di Indonesia dalam menghasilkan periset-periset yang unggul dan siap berkompetisi.

Lebih lanjut, kata Gomez, intitusi ini punya program Magister Bio-Management. Melalui program ini, para mahasiswa dapat memperoleh gambaran utuh mengenai alur kerja di perusahaan berbasis sains, termasuk industri farmasi.

Mereka bisa belajar langsung dan menyelami betapa industri ini berkembang cepat mengikuti hasil penelitian terbaru. Langkah ini diharapkan dapat mendorong berbagai pihak untuk membantu pemerintah memenuhi kebutuhan tenaga ahli dan riset di industri berbasis sains.

Sumber : berbagai sumber

Bersekolah di Negeri Yang Aman

Jakarta - Chaqial. Belajar di Perguruan Tinggi Luar negeri tentunya harapan calon mahasiswa. Apalagi mendapatkan beasiswa pastinya sangat menyenangkan.

Tetapi bila situasi di negeri tidak aman masihkah dapat belajar dengan nyaman?. Tentu saja situasi negara yang tidak aman biasanya membuat warganya tak nyaman. Proses pembelajaran pun bisa terganggu. Oleh sebab itu, calon mahasiswa sebaiknya benar-benar jeli mempertimbangkan negara tujuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Berdasarkan Indeks Perdamaian Global (GPI) yang disusun Institut Ekonomi dan Perdamaian, ada 22 indikator untuk menentukan level kedamaian sebuah negara. Beberapa di antaranya adalah angka kejahatan, hubungan dengan negara sekitar, dan tak pernah terlibat perang.

Menurut laporan yang dirilis pada 2016 itu, Islandia menjadi negara yang paling memenuhi indikator-indikator tersebut.

Negeri tersebut memiliki tingkat demokrasi yang nyaris sempurna. Kesetaraan gender juga terjaga—mengingat Islandia adalah negeri pertama di Eropa yang memiliki presiden perempuan, Vigdis Finnbogadottir yang terpilih pada 1980.

Lebih dari itu, tingkat kejahatan di sana sangatlah rendah. Selain itu, sektor pendidikan di negeri tersebut sukses dengan 99 persen warga yang bebas dari buta huruf. Prestasi itu memungkinkan karena rakyat Islandia tak perlu membayar biaya sekolah.

Rakyat Islandia juga tercatat menjadi warga paling melek informasi. Negara ini berada di posisi atas dalam hal kegemaran membaca dan penerbitan buku.

Posisi kedua ditempati oleh Denmark. Seperti Islandia, pendidikan digratiskan di negeri Skandinavia ini. Bahkan tak hanya pendidikan, warga pun tak perlu membayar biaya kesehatan.

Kepedulian akan kesehatan dan lingkungan ditunjukkan warga ibu kota Denmark, Kopenhagen, yang lebih memilih bersepeda atau berjalan kaki ke sekolah atau tempat kerja. Hal ini, dilakukan demi membuat Kopenhagen menjadi kota dengan level karbon terendah pada 2025.

Situasi yang damai di Denmark salah satunya disebabkan tingkat korupsi yang kecil. Gejolak politik akibat korupsi tidak dirasakan warga Denmark seperti halnya warga Indonesia.

Austria kemudian berada pada posisi ketiga. Berdasarkan GDP-nya, Austria adalah salah satu negara terkaya di dunia sehingga memiliki standar hidup yang tinggi dan sistem transportasi yang sangat mumpuni.

Keindahan alam dan bangunan-bangunan bersejarah di sana membuat Austria dikunjungi jutaan turis dari berbagai negara di dunia setiap tahun.

Austria merupakan salah satu negara yang paling nyaman untuk ditinggali karena rendahnya angka kejahatan. Hal ini tentu menjadi idaman bagi tiap pelajar, bukan?

Selanjutnya, pada posisi keempat ada Selandia Baru. Negara yang terletak tak terlalu jauh dari Indonesia ini dikenal memiliki layanan sosial yang luar biasa, jumlah narapidana yang minim, dan memiliki hubungan baik dengan negara sekitarnya.

Selandia Baru dikenal memiliki sistem hukum yang independen dan kuat serta kepolisian yang berdedikasi tinggi.

Negeri Kiwi itu juga memberikan layanan pendidikan dan kesehatan yang sangat baik untuk rakyatnya. Penduduk asli, terutama yang tak bekerja, bisa mendapatkan layanan kesehatan gratis saat membutuhkan.

Jaraknya yang cenderung lebih dekat dari Indonesia tentu menjadi kelebihan untuk menjadikan Selandia Baru tujuan pilihan untuk lanjutkan pendidikan.

Sementara itu, pada posisi kelima terdapat Swiss sebagai negara terdamai. Kota-kota yang bersih, angka kejahatan yang rendah, dan makanan yang berkualitas membuat Swiss menjadi salah satu negeri yang paling layak ditinggali.

Kualitas pendidikan dan sistem kesehatan negeri tersebut adalah salah satu yang terbaik di dunia. Oleh karenanya, tak heran kalau kemampuan dan bakat rakyat Swiss terdongkrak luar biasa.

Tak hanya berfokus pada pengembangan SDM, Swiss juga dikenal sebagai salah satu negeri paling hijau di dunia karena sangat mengutamakan energi terbarukan dan produk-produk ramah lingkungan.

“Prinsip life balance selalu dipegang warga Swiss,” ujar Prof. Lynn Lim, Dekan Program Master of Science in International Management dari University of Applied Sciences and Arts Northwester Switzerland, seperti dikutip dari Kompas.com (17/04/2017).

Dalam pemaparannya di kampus Indonesia International Institute for Live Sciences (i3L) yang terletak di Pulomas itu, Lim menceritakan keseruan belajar di University of Applied Sciences and Arts Northwester Switzerland.

“Pukul 08.30 malam, mahasiswa sudah harus pulang. Tidak boleh ada kegiatan apa pun di kampus,” papar dosen tersebut.

Hal itu bertujuan agar kehidupan mahasiswa tak melulu berkutat dengan dunia perkuliahan. Keseimbangan dalam hidup menjadi prioritas utama. Negara yang damai ditambah kualitas pendidikan yang tinggi membuat Swiss menjadi tujuan ideal bagi calon mahasiswa.

Mau mencicipi berkuliah di sana? Selain jenjang sarjana, salah satu universitas terbaik di Swiss itu menawarkan program master yang bekerja sama dengan Kampus i3L.

Tak tanggung-tanggung, calon mahasiswa magister akan memperoleh dua gelar (double degree) sekaligus, yakni Magister Bio Manajemen (M.M) dari i3L dan Master of Science in International Management (M.Sc) dari University of Applied Sciences and Arts Northwester Switzerland.

Dalam program tersebut, mahasiswa akan menjalani masa kuliah selama empat semester dengan semester ketiga berlangsung di University of Applied Sciences and Arts Northwester Switzerland.

Seperti diketahui, i3L adalah institusi yang memiliki kurikulum internasional berbasis bisnis dan sains. Dengan demikian, para mahasiswa tak hanya dididik menjadi ilmuwan, tetapi juga pebisnis andal sehingga bisa memasarkan produk temuannya.

Meski mempelajari sains dan bisnis sekaligus bukanlah hal yang mudah, dengan kenyamanan dan tingkat kedamaian tinggi yang dimiliki Swiss, proses pembelajaran tentu akan berjalan lancar.

Kereta Hyperloop Hadir di Indonesia?

Jakarta - Chaqial. Konsep transportasi modern yang canggih, cepat, aman, dan nyaman tengah didengungkan Pemerintah Indonesia. Kini telah dimulai pembangunan awal untuk kereta cepat Jakarta-Bandung.

Moda transportasi massal yang aman, nyaman dan cepat, memang sangat dibutuhkan di Indonesia mengingat kemacetan yang parah terjadi di ruas-ruas jalan kota besar terutama Jakarta yang luar biasa kepadatan lalulintasnya. Dikarenakan budaya masyarakatnya yang enggan berpergian dengan moda transportasi umum dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, alhasil tumpah ruah kendaraan dijalanan bagaikan semut beringan.

Pemerintah dalam hal ini tidak serta-merta memvonis ke-engganan masyarakat menggunakan transportasi massal. Coba lihat bagaimana sarana transportasi umum yang berada di Indonesia belum dapat memberikan kepuasan bagi konsumennya, masih sangat jauh dari rasa aman dan nyaman. Jika dibandingkan dengan masyarakat Jepang yang lebih memilih moda transportasi umum untuk ke kantor atau beperpergian ini karena moda transportasi disana sangat profesional, memperhatikan kepuasan konsumen, memberikan rasa aman dan nyaman. Tentunya Indonesia dapat belajar banyak dari beberapa negara yang sangat memperhatikan kenyamanan dan rasa aman bagi masyarakat dalam menggunakan moda transportasi massal.

Dalam memenuhi akan moda transportasi modern, Hyperloop Transportation Technologies (HTT) hari ini mengumumkan penandatanganan kontrak untuk feasibility study senilai 2,5 juta dollar Amerika Serikat (AS) dengan investor swasta. Jika dirupiahkan, nilainya sekitar Rp 33,52 miliar (kurs Rp 13.410 per dollar AS). 

Perjanjian feasibility study tersebut menandakan segera dilakukannya eksplorasi kemungkinan secara langsung untuk sistem transportasi hyperloop di Indonesia, dengan fokus di Jakarta. Selain itu, juga eksplorasi penuh dari transportasi hyperloop yang menghubungkan Jawa dan Sumatera. 

Perjanjian feasibility study ini merupakan perjanjian pertama hyperloop di Asia Tenggara. Pada tahun sebelumnya, HTT telah membuat beberapa perjanjian bersejarah dan saat ini sedang bekerja secara langsung dengan para pemegang kebijakan dan pemerintahan. 

Antara lain, pengembangan rute dari Bratislava, Slovakia hingga Brno, di Republik Ceko. Selain itu, sebuah riset dan pusat pengembangan di Toulouse, Perancis. Juga ada pengembangan rute yang menghubungkan Abu Dhabi hingga Al Ain di bawah naungan HH Sheikh Falah Bin Zayed Al Nahyan. 

HTT kemudian melanjutkan untuk menciptakan kerja sama publik swasta untuk mengembangkan studi rute dan kerangka kebijakan yang dibutuhkan untuk sistem hyperloop di seluruh dunia.

Potensi hyperloop di Indonesia
Dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa, Indonesia merupakan negara ke-4 dengan populasi tertinggi di dunia. 

Kota Jakarta dengan populasi lebih dari 10 juta orang, menghadapi beberapa permasalahan kemacetan terparah di dunia dengan kebiasaan pulang-pergi selama empat jam.  

Dengan perkiraan sebesar 70 persen dari polusi udara berasal dari kendaraan. Sistem hyperloop akan bekerja dalam jangka panjang untuk menyelesaikan isu ini. 

Contohnya, sebuah rute hyperloop dari Jakarta menuju Yogyakarta akan memakan waktu kurang lebih 25 menit. Bandingkan dengan menggunakan mobil yang dapat memakan waktu hingga hampir 10 jam. 

Jakarta menuju Bandung hanya akan memakan waktu 9 menit, jika dibandingkan dengan yang biasanya memakan waktu hingga 2,5 jam. 

Kemudian, hyperloop yang menghubungkan Soekarno-Hatta International Airport dengan pusat Kota Jakarta hanya akan memakan waktu 5 menit.

Mengutip dari laman kompas. com, "Indonesia dan Jakarta pada khususnya, merupakan salah satu area dengan populasi terpadat di dunia," ujar Bibop Gresta, Chairman HTT.

"Dengan lalu lintas dan kemacetan yang menjadi isu besar di sini, hyperloop akan menjadi transformasi yang menggembirakan bagi wilayah tersebut," kata dia. 

Dwi Putranto Sulaksono, Founder Dwiyuna Jaya Foundation, partner lokal Hyperloop mengatakan, sistem transportasi canggih ini akan mempengaruhi keseluruhan spektrum kehidupan, dari bisnis hingga kualitas keberlanjutan kehidupan. 

"Kami sangat senang untuk menciptakan kerja sama dengan HTT yang akan memberikan dampak positif bagi Indonesia," kata Dwi. 

Sedangkan Dirk Ahlborn, CEO dari HTT mengatakan, pihaknya telah melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah di seluruh dunia selama lebih dari dua tahun sekarang. 

"Sekarang kami siap untuk membangun sistem pertama kami, mengembangkan kerangka peraturan yang diperlukan adalah langkah yang paling penting," kata dia.

Tentang HTT
Hyperloop Transportation Technologies, Inc (HTT) didirikan pada bulan November 2013, berawal dari JumpStartFund-a crowdfunding yang unik dan platform crowdsourcing inkubator yang menggunakan pengetahuan kolektif dan aset untuk membuat ide-ide seperti hyperloop menjadi kenyataan. 

HTT adalah sebuah organisasi kolaboratif yang dibangun dalam ekosistem egaliter sebuah perusahaan yang menghargai setiap kontributornya-baik yang individu dan entitas. 

Kolaborasi dengan kelompok-kelompok seperti Atkins, Leybold Corporation, dan Deutsche Bahn telah mendorong kemajuan yang luar biasa dari sistem transportasi Hyperloop, untuk di tempatkan di Quay Valley, California, Slovakia, Toulouse, Brno, Republik Ceko, dan Abu Dhabi dalam kemitraan dengan Sheikh. Perjanjian telah ditetapkan untuk diumumkan secara resmi pada 2017.

HTT memiliki perjanjian eksklusif dengan Lawrence Livermore National Laboratory untuk menggunakan sistem levitasi magnetik pasif mereka sebagai inti dari desain dan konstruksi hyperloop yang murah, sadar keselamatan. 

Perusahaan ini bermitra dengan lebih dari 600 anggota tim profesional yang menyediakan tenaga teknik, fisika, hukum, sumber daya manusia, media relation, logistik, dan bakat konstruksi untuk bahan bakar sebuah perusahaan yang unik, kolaboratif dan penuh bakat. 

Untuk mendukung upaya ini dan tim global, HTT mengumumkan investasi yang melebihi 100 juta dollar AS pada bulan Desember 2016.

Ada Apa Dengan Menteri Susi?

Jakarta -- Chaqial. Pro dan kontra dalam kehidupan adalah hal yang wajar terjadi. Namun haruskah pro dan kontra yang terjadi menjadi sebuah faktor penghambat dalam laju sebuah pembangunan?.

Belum lama berselang keberhasilan dari buah kebijakan tegas seorang Menteri Susi telah berhasil meningkatkan pendapatan nelayan dengan mengeluarkan kebijakan "perang melawan ilegal fishing". Ikan dari perairan Indonesia yang banyak dicuri kini lebih aman dan kondusif dan ikan pun kembali berlimpah. Imbasnya nelayan kini dalam mencari ikan tidak harus mencari jauh hingga ke tengah lautan.

Tetapi kini banyak pihak baik dari kalangan pengusaha, nelayan bahkan tokoh politik bersuara dengan kontra dan keras mempertanyakan kebijakan Menteri Susi yang melarang penggunaan cantrang. Mengapa kebijakan  yang dibuat pada tahun 2015 lalu dan masih diulur-ulur itu hingga akhir Juni 2017 ini baru akan dilaksanakan malah menuai protes dan reaksi keras?.

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti meminta sejumlah pihak tak mempolitisasi kebijakannya terkait dengan penggunaan alat cantrang. 

Dia menuturkan daripada membicarakan persoalan terkait dengan cantrang secara terus-menerus, seharusnya pembicaraan saat ini adalah untuk meningkatkan produk domestik bruto (PDB) sektor perikanan. 

"Bahas cantrang ini sudah sangat lama, jangan dipolitisasi, cukuplah kita dipusingkan dengan 313, 411, 212, kenapa cantrang ini dibahas terus, kita ini harus move on," kata Susi di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Kamis (4/5) yang dilansir dari media online cnn-Indonesia.com .

Aksi yang dimaksud adalah Aksi Bela Islam 411, Aksi Bela Islam 212 dan Aksi Bela Islam 313, yakni protes yang dilakukan kelompok Islam terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Protes yang dihadiri oleh ribuan orang itu mendesak pemerintah mencopot Ahok dari jabatannya karena terjerat pidana penodaan agama.

Di lain pihak, Susi menyatakan pihaknya telah mensosialisasikan terkait bahaya cantrang kepada perikanan yang berkelanjutan. Nelayan pun, kata Susi sejauh ini sudah banyak yang mengerti. 

"Nelayan banyak yang mengerti kalau cantrang itu memang bahaya," kata dia. 

Susi menegaskan dampak buruk penggunaan cantrang sudah sepenuhnya dipahami para nelayan. Bahkan kata Susi, kebijakan itu pun diambil karena pemerintah ingin pengelolaan perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.

"Tanya sama nelayan yang benar, cantrang itu apa tidak bahaya? Pasti nelayan yang benar akan bilang itu merusak," katanya.

Sebelumnya, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memang sempat menimbulkan pro dan kontra.

Peraturan tersebut adalah Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/PERMEN-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela dan Pukat Tarik di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPRI).

Dalam peraturan itu pun disebut bahwa nelayan dilarang menggunakan cantrang untuk menangkap ikan. Sebagai gantinya, KKP akan membagikan alat penangkap ikan pengganti cantrang yang dianggap lebih ramah lingkungan.

Namun dalam dua tahun sejak kebijakan itu berjalan, KKP belum melakukan pembagian alat penangkap ikan pengganti cantrang dengan maksimal. 

Menurut Bambang, Susi hanya berani mengeluarkan berbagai kebijakan serta solusi tertulis tanpa eksekusi langsung di lapangan. Akibatnya, kata Bambang, para nelayan bingung dalam menggunakan alat tangkap.

Back To Top